Nggak ada yang menyangka, lho. Beliau ini sakit hanya sekitar 5 hari, dan sempat dibawa ke salah satu rumah sakit besar di Singapura. Tapi apa mau dikata, Tuhan menentukan lain. Semua kaget. Semua menghela napas. Termasuk saya yang hanya berstatus mantan karyawan.
Saya mendapat runtut ceritanya yang cukup detil, mulai dari beliau merasa kurang enak badan, masuk rumah sakit, trombosit drop, unconscious, dibawa ke negeri singa, sampai pagi2 lewat blackberry message saya dapat kabar kalau beliau sudah nggak ada.
Cepet bener ya, pikir saya. Dan mau nggak mau saya ikut nangis. Padahal di kantor itu dulu jarak jabatan saya dengan beliau ini jauh. Bukannya nggak pernah ketemu atau berhubungan, tapi saya bukan yang tiap hari harus lapor kepada beliau. Cuma yang saya ingat, bulan2 ini adalah bulan2 dimana saya dan tim proyek anu harus mewawancara dan memotret beliau. Orang yang low profile, baik, dan perhatian dengan orang2 disekitarnya. Nangis? Iya lho. Saya sempat nangis, apalagi sambil baca runtutan cerita dari seorang teman baik yang ikut mengurus kepulangan jenazah dan persemayamannya. Jadi biarpun siapalah saya ini, saya putuskan untuk datang memberi penghormatan terakhir.
Waktu melayat, saya cukup mumet memikirkan bagaimana parkirnya di sekitar rumah duka dan pelayat sudah tentu tumplek blek disana. Bisa masuk nggak sih? Nanti salaman sama siapa? Jadi datangnya rada malam. Nyatanya masih banyak orang, mungkin karena besok paginya jenazah sudah akan dimakamkan. Jangan tanya karangan bunga, buanyak betul! Pelayat datang dan pergi, buku tamu mungkin sudah ganti berapa kali. Semuanya sama, nggak ada yang percaya. Semua bilang beliau pergi terlalu cepat. Nah, katanya 'kan orang baik memang seringkali 'dipanggil pulang' duluan. Jadi apa kita2 yang masih hidup ini nggak baik? Heh heh heh, nda tau ya ...
Makin sedih waktu saya lihat foto Bapak di atas jenazah. Foto itu diambil bulan Februari tahun lalu, dan saya sendiri yang masih in charge. Yaampun, si Bapak, kok sekarang tahu2 sudah nggak ada ... rasanya miris banget. Begitulah hidup ya, segala sesuatu ada waktunya.
Pagi hari besoknya, iklan dukacita seperti jor-joran mengisi halaman media massa. Lagi2 saya sedih, karena foto2nya sebagian diambil saat saya yang punya 'gawe' ...
Tapi lucunya, salah satu bekas rekanan kantor saya yang juga teman baik saya sempat dengan panik menelepon saya demi klarifikasi berita duka ini. "Yaampuuuuun si Bapak ... kita belum sempat interview lho buat bikin laporan!" katanya ... hahahaha ...
Sampai hari ini pun cerita2 tentang doa bersama mengenang Bapak, masih masuk di blackberry message saya. Menunjukkan betapa beliau begitu dicintai banyak orang dan kepergiannya bikin banyak orang kehilangan. Beliau bukan milik keluarganya saja, tapi juga milik komunitas besar disekitarnya ...
Farewell Pak, we will miss you ...